
Malam tadi saya mencoba keluar mencari makanan, mobil melaju menyusuri gemerlap malam Australia, menyapa angin yang cukup besar waktu itu, sesampainya ditempat tujuan saya mulai mencari parkiran dipinggir jalan, saya melihat ada celah kosong tepat didepan mata saya, namun saya berfikir bahwa itu terlalu jauh dari rumah makan yang akan saya datangi, akhirnya mobil kembali melaju kedepan dan kembali mencari parkiran, namun sampai ujung jalan tak ada lagi celah untuk parkir, saya putar mobil dan bermaksud hendak mengambil dan memarkir kembali mobil ditempat pertama kali saya lihat, namun dewi fortuna meninggalkan mobilku malam tadi, parkiran itu sudah terisi, sesal yang ada akhirnya setelah berkeliling saya bias juga memarkirkan mobil, namun dengan jarak yang sangat jauh dari rumah makannya.
“Kesempatan”
Tak datang 2 kali, pada kasus tadi mungkin saya kurang jeli, bahwa untuk setiap malam minggu tentunya jalanan-jalanan dikota sebesar ini akan padat dan susah mencari parkiran, pada kondisi pertama saat saya menemukan celah untuk parkir yang ada diotak saya adalah optimisme untuk mendapatkan parkiran yang lebih dekat lagi, dan ternyata optimisme tadi tidak disertai logika dan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan yang seharusnya saya perhatikan.
“Berputar”
Ketika saya memutuskan untuk berputar untuk mendapatkan kembali tempat parkiran tadi ternyata sudah raib ditempati orang, namun keputusan untuk berputar tidaklah terlalu buruk, karena berarti masih melihat celah pertama tadi, walaupun hasilnya nihil tapi usaha berputar itu kembali saya katakan bukanlah usaha yang buruk.
Apa yang kita hadapi dalam dunia nyata adalah terkadang kita terlalu optimis tak berdasar, optimisme adalah sebuah hal positif jika disertai dengan pertimbangan dan dasar yang matang dan terolah, namun hanya akan menjadi petaka bagi kita jika optimisme berlebihan.
Kesempatan tidaklah datang untuk kedua kalinya, saat kita melihat sebuah celah maka lihatlah, mungkin celah itulah yang harus kita masuki, mungkin itulah awal untuk kita…
Baca surat al Hajj ayat 31, Allah berfirman: “Telah Aku datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu ni’matallah laa tuhsuha”.
Dan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita kadang kita tidak melihat itu sebagai sebuah kesempatan untuk kita, dan kadang tidak tahu bagaimana memanfaatkannya.
Maka, apapun alasannya kita tidak boleh menyepelekan sebuah celah atau kesempatan dalam hidup kita, tinggal bagaimana persepsi kita terhadap kesempatan itu sendiri.
Ingat kesempatan bukanlah hanya untuk masalah-masalah karir dan perkuliahana, namun juga kesempatan-kesempatan kita untuk menggoreskan tinta emas dalam sejarah mu’amalah dalam kehidupan kita.
Kesempatan untuk menyatakan rasa sayang pada ibu, ayah, saudara, teman, sahabat adalah salah satu kesempatan yang kadang kita lewatkan, kadang kita terlalu disibukan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, sementara selama kita hidup di dunia kita ternyata belum pernah skalipun berbicara tegap dihadapan ibu kita bahwa kita saying kepadanya, bahwa kita mencintainya, kita kadang suka melewatkan untuk menyapa ayah, karena sungguh orang tua akan sangat senang dengan seorang anak yang bias menunjukan rasa sayangnya kepada orang tua, dan tentunya lisan kita menjadi media paling jitu untuk itu, walaupun lisan harus dibarengi dengan perbuatan kita sehari-hari tentunya.
Dan masih banyak lagi kesempatan-kesempatan yang mendatangi kita dalam hidup, namun kita diamkan dan tidak melihat itu sebagai sebuah kesempatan…
Wallahu A’lam Bishowab
asep oz
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment