Suara ceria tawa dan canda anak-anak dan sambutan hangat sang istri sewaktu menyambut kedatanganku sepulang dari kerja membuat peluh dan lelah ku menjadi hilang. Dalam hembusan angin sore yang sepoi-sepoi menhampiri rumah ku yang sederhana. Seperti biasa selepas pulang dari kantor aku langsung mengambil air wudlu dan shalat, setelah itu menghampiri anak-anak dan istriku tercinta yang sedang bercanda ria diruang keluarga.
Disuatu sore yang cerah, dikagetkan oleh sosok seorang berjubah putih yang menyebarkan harum mewangi, tiba-tiba datang menghampiri diriku yang waktu itu belum sempat melangkahkan kakiku ke dalam rumah. Belum sempat diriku bertanya “siapa dia?” tiba-tiba dadaku terasa sesak, nafasku terasa berat dan kerongkonganku terasa sakit yang mendalam.
Tak kuat ku menahan sakit sampai badanku megeluarkan keringat dingin, mataku meneteskan air mata dan badanku terasa lemas. Dari kejauhan ku melihat anak-anakku tak seperti biasanya bercanda ria dan istriku menyambutku dengan hangat tiba-tiba menangis sekeras-kerasnya sehingga mengundang banyak perhatian tetangga dan orang yang melewati rumahku.
Ku dekati istri dan anakku yang sedang menangis diruang keluarga. Tiba-tiba ku terhentak kaget melihat sosok mayat yang terbujur kaku dihadapan istri dan anak-anakku yang ternyata adalah badanku yang sudah tak berdaya, kaku dan pucat. Ku coba peluk istri dan anak-anakku untuk menjelaskan pada mereka bahwa aku ada didekat mereka tapi… apalah daya tanganku tidak bias meraih dan merasakan mereka.
Baru kusadari bahwa aku telah meninggal dan orang yang kutemui malaikat yang telah membawa ruh ku yang tak akan pernah lagi kembali ke dunia yang fana ini, dunia yang penuh iming-iming kenikmatan sesaat.
Aku menangis sejadi-jadinya, telah kusadari bahwa aku meninggal dalam keadaan belum beribadah, belum banyak yang kulakukan untuk kemaslahatan umat, belum bisa berbakti kepada kedua orang tua ku dan orang-orang yang kucintai, aku belum bisa menjadi seorang kepala keluarga yang dapat menjadi tauladan bagi keluargaku dan belum bisa menjadi tetangga yang baik.
Sungguh, aku tak kuat melihat mayatku yang terbujur kaku, aku telah menyesal. Seandainya aku tahu kapan aku akan meninggal aku akan mempersiapkan diriku untuk menghadapi kematianku dan akan ku bagi waktu ku yang tersisa untuk ibadah kepada-Mu ya… rab, untuk bekerja dan membimbing anak-anak dan keluargaku. Tapi… waktu sudah terlambat, ajal sudah menjemputku yang tak aku duga setelah sepulangku dari kerja.
Ya Allah, seandainya Kau mengijinkanku untuk hidup lebih lama dan member kesempatan untuk membaca E-mail ini. Sungguh aku termasuk orang yang bahagia karena masih bisa meluangkan waktuku untuk bersimpuh dihadapan-Mu untuk memohon ampunan dosa yang yang telah ku lakukan dan bisa berbuat baik kepada orang lain. Sehingga aku siap meyembut kematianku.
Ikhwatifillah, pelajaran yang disampaikan pada ilustrasi cerita diatas bahwa kematian seseorang tidak memandang usia, tempat dan waktu. Semua orang akan mengalaminya dan kematian tidak bisa ditangguhkan atau digantikan dengan sesuatu yang sangat berharga sekalipun. Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Al Munafiqun: 63).
Marilah, sebelum kematian datang menjemput, kita persiapkan diri untuk menjadi lebih baik. Menjadi hamba yang selalu mendekatkan diri kepada Sang Khaliq untuk beribadah kepada-Nya. Bukankah Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah?
Hantono Assadul Kahfi (Motivation Hunter) Haldon ST. Lakemba
Andesco83@yahoo.com.au
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 komentar:
Siapa hantono???
Lumayan tulisannya... halah :-D
Post a Comment